Perjalanan Adelaide, South Australia Bagian 2

HF kami mengantar dari Adelaide airport menggunakan kendaraan sedan berwarna merah dan kami diajak berkeliling terlebih dahulu di sekitar kota Adelaide dan juga tempat-tempat yang akan menjadi lokasi kegiatan pelatihan di Adelaide ini. Akhirnya kami sampai di rumah HF yang beralamat di Albert street 71, Clarence Garden, tidak terlalu jauh dari pusat kota Adelaide, hanya sekitar 7 km saja. Kedatangan kami disambut oleh dua ekor anjing peliharaan Elaine, Kathie dan Jacky. Sempat kaget juga dan takut namun HF kami segera menyuruh anjing-anjing itu untuk tenang dan duduk.

Kathie adalah sejenis anjing terrier berukuran sedang, sedangkan Jacky termasuk jenis cavalier king or charles spaniel. Mencoba untuk beradaptasi dengan mereka adalah tantangan kami berikutnya terutama dengan pola hidup dan penghuni rumah termasuk binatang peliharaan mereka. Bahkan Elaine menjelaskan bahwa anjing bagi mereka adalah “furr kids” diibaratkan anak oleh mereka.

 

Kami dipersilakan menempati sebuah kamar berukuran sedang dengan furnitur lengkap. Ada empat buah lemari pakaian, satu meja belajar, satu meja rias, dua nakas lengkap dengan lampu tidur, satu kursi putar dan satu kursi sofa. Wah padat sekali isi kamar ini sehingga untuk sholat hanya bisa untuk satu orang saja. Setelah istirahat sebentar kami diajak makan malam bersama di ruang makan dengan menu yang lumayan mengagetkan lagi, nasi kari campur saus tomat didalam sebuah paprika besar. Waduh rasanya lumayan aneh tapi karena lapar kami sikat sampai habis. Minuman yang disediakan cukup bervariasi, kita boleh memilih minum teh, kopi, susu, jus maupun softdrink bahkan bandrek dan bajigur pun ada. Beuh…lengkap. Sambil makan kami mengobrol dalam bahasa inggris tentunya, mengenai hal-hal yang menarik juga mengenai jadwal kegiatan dan hal lainnya. Setelah itu kami pamitan untuk mandi dan istirahat.

 

Hari Minggu, 20 Oktober 2013.

 

Kami terbangun karena cuaca yang dingin sekali dan ternyata sudah subuh. Cara mengambil wudhu merupakan tantangan lain karena Ozzy sangat anti kamar mandi yang basah, mereka suka yang kering. Lain dengan orang Jawa Barat yang biasa berbasah-basahan di kamar mandinya. Untuk wudhu saya menggunakan air dari wastafel dan mengusahakan sebisa mungkin agar tidak ada air yang muncrat ke lantai. Setelah melaksanakan sholat subuh saya mencoba baca-baca buku yang ada di kamar dan juga buku petunjuk kegiatan dari panitia. Pukul 8 kami dipanggil untuk sarapan dan ternyata menunya sederhana saja, ada cornflake disiram susu, roasted bread, selai strawberry dan jus buah apel. Hmm… perlu penyesuaian lagi terutama dengan susu dan rasa asam dari jus apalagi di pagi hari. Sambil sarapan kami diberitahu bahwa mereka akan keluar rumah pergi ke gereja sampai jam 10.30 dan kami ditinggal di rumah.

Untuk permulaan, kami putuskan untuk sedikit menjelajah suasana kompleks rumah. Kami berjalan ke arah timur dan tampak suasana jalanan yang lengang dan sepi. Ada banyak mobil terparkir di pinggir jalan namun jarang kami lihat orang berlalu-lalang di jalanan. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang bule yang berolahraga sambil menuntun anjing mereka. Kami mengucapkan sapaan hello pada mereka sebagai tanda persahabatan. Ada yang membalas dengan ramah ada juga yang cuek terus berjalan. Sama lah seperti di kita, ada yang baik ada juga yang kurang baikya. Kami mensurvey bus stop 15 dimana kami akan naik jika harus berangkat ke kota. Juga kami lihat ada seseorang yang memasang pengumumam “garage sale” di Kyeema Avenue 24, kami tertarik untuk melihat barang apa saja yang mereka jual. Ternyata banyak barang yang mereka keluarkan, mulai dari piring gelas, alat listrik, buku-buku, bahkan beberapa furnitur. Hmm… saya menemukan beberapa buku menarik dengan harga pukul rata yakni $1 untuk tiap buku. Diambillah 4 buah buku dan kami segera kembali ke rumah HF. 

 

Geoff pulang dari gereja dan mengajak kami dengan mobilnya untuk mengelilingi kota dan juga pantai Glenelg. Dia juga menunjukkan lokasi sekolah yang akan kami kunjungi yakni Hamilton Secondary College di Marion Road. Terlihat suasana kota Adelaide yang rapih dan bersih serta kebanyakan kendaraan yang terlihat berupa sedan, motor hanya sesekali terlihat itupun motor besar, tidak ada jenis bebek seperti di kita. Paling banter adalah skooter sehingga nampak lucu orangnya tinggi besar sementara motornya mungil.

 

Lalu kami kembali ke rumah dan menunggu kepulangan Elaine dari acara baby shower party, semacam acara tujuh bulanan bayi dalam kandungan. Yang membedakannya adalah disini hanya berlaku untuk anak pertama saja, sementara di kita untuk setiap kehamilan tanpa mengitung anak keberapa. Setelah makan malam, kami kembali mengobrol sebisa kami dan terkadang miskomunikasi terjadi karena keterbatasan pemahaman bahasa masing-masing.

 

Hari Senin, 21 Oktober 2013

Seperti sebelumnya saya terbangun oleh suara alarm adzan subuh dari handphone dan segera melasanakan sholat. Sambil menunggu siang dan menghilangkan rasa dingin, kami berselimut ria sambil internetan tak terasa sudah jam 7.30 pagi. Kami pergi ke ruang makan dan menyiapkan sarapan berupa mie instan, roasted bread dan secangkir teh manis. Rupanya terjadi salahpaham antara kami dan Elaine, kami mengira akan berangkat jam 8 lebih, ternyata harusnya jam 7.40 harus sudah ada di bus stop. Waduh, akirnya Elaine mengeluarkan mobil dan mengantarkan kami sampai ke EDC (Education Development Center), tadinya Elaine akan mengantarkan kami menggunakan bus dan tram biar kami tahu route perjalanannya. Ya sudah ini adalah pembelajaran bagi kami untuk bersiap lebih pagi. Sampai di EDC ternyata hanya memakan waktu kurang dari setengah jam saja. Pukul 8.30 kami sampai didepan EDC dan turun dari mobil sambil diteriaki oleh beberapa rekan yang sudah lebih dulu sampai. “anak mamii… diantar ..!!” ah biarkan sajalah.    

Jam 9 kami masuk ke ruangan yang sangat mewah, rapi dan bersih dengan lantainya yang dilapisi karpet tebal. Sungguh berbeda dengan kita disini ruangan kebanyakan dilapisi karpet namun tetap dalam keadaan bersih dan rapih. Tidak terlihat ada sampah. Masuk ke ruangan, kami sudah ditunggu oleh pemateri dari EDC yaitu Susan Boucher. Beliau seorang guru yang sudah senior dan sekarang tugasnya adalah memberi pelatihan kepada guru-guru se Australia. Sungguh beruntung kita mendapatkan pemateri sekaliber beliau.

Materi hari pertama ini diisi dengan sejumlah informasi awal dari program pelatihan ini.

Several points that  I got from her are Australian should respect the aborigin people as they own the land actually, the land that where they used to hunt, fish, live and grow their children. It is said that South Australia is well known by its Tram, food, wine, the rivers and also the view of the sea.

 

Materi selanjutnya adalah tentang penentuan clasroom rules dimana semua siswa dan guru terlibat aktif dalam menentukan aturan kelas. Peraturan ditentukan sendiri oleh semua warga kelas dan ketika sudah disepakati bersama, semuanya punya kewajiban yang sama untuk konsisten mematuhi aturan tersebut. Dengan pendekatan ini semua siswa merasa memiliki tanggungjawab yang sama dan posisi yang sama sehingga akan lebih sadar dan commited to the rules. Peraturan itu kemudian dituliskan dan ditempel di dinding kelas agar semua orang mengetahui aturan tersebut. Jika ada yang melanggar guru cukup menunjuk anak tersebut dan diminta melihat atau membaca aturan. Otomatis siswa tersebut akan sadar bahwa dia melanggar dan kembali ke jalannya yang lurus.

 

Selanjutnya kami diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi gaya belajar masing-masing. Kami diminta untuk mengisi rubrik pertanyaan yang mengarah pada gaya belajar masing-masing. Semuanya ada empat style yakni pragmatis, activist, theorist, dan reflector.

Honey and Mumford learning cycle menjelaskan hal ini sebagi berikut:

  • Activist – oriented to immediate tasks, works flexibly but may not think about future consequences and may be self-centred. Probably learns best by practical experimentation and experience, e.g. as an assistant or apprentice.
  • Reflector – observes and collects information before acting, acts cautiously and keeps the ‘bigger picture’ in mind. Probably learns best through individual research.
  • Theorist – works logically, in an ordered sequence, builds information into a theoretical or rational structure. Works best on the basis of principles, models and systems. Probably learns best through structured interaction, e.g. a training course.
  • Pragmatist – deals with immediate issues, is ‘hands on’ and wants to experiment. Enjoys applying theory to practice. Probably learns best by doing the job, but with a mentor.

  

 

Menurut hasil penelitian para ahli, ada beberapa learning style yang dapat diamati antara lain

  • Visual (spatial):You prefer using pictures, images, and spatial understanding.
  • Aural (auditory-musical): You prefer using sound and music.
  • Verbal (linguistic): You prefer using words, both in speech and writing.
  • Physical (kinesthetic): You prefer using your body, hands and sense of touch.
  • Logical (mathematical): You prefer using logic, reasoning and systems.
  • Social (interpersonal): You prefer to learn in groups or with other people.
  • Solitary (intrapersonal): You prefer to work alone and use self-study.

 

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan simulasi kemampuan daya ingat dengan melakukan sebuah permainan. Games yang digunakan adalah mengedarkan sejumlah barang dengan cepat dari satu kelompok kepada kelompok lainnya terus menerus. Kemudian barang dikembalikan ke tempat semula dan semua peserta diminta menuliskan nama-nama barang yang mereka lihat dan ingat. Dari lebih dari 30 jenis barang yang diedarkan terlihat variasi daya ingat dari peserta pelatihan. Ada yang bisa mengingat hampir semua barang ada juga yang hanya bisa mengingat sebagian saja.

 

Hari Selasa, 22 Oktober 2013

 

Kegiatan hari ini tetap dilaksanakan di gedung EDC (Education development center) dan pematerinya pun masih sama yaitu Susan Boucher. Kali ini Susan memberikan materi tentang pengenalan sistem pendidikan di Australia baik secara keseluruhan maupun khusus Pendidikan di South Australia.

Tujuan umum berbagai sektor pendidikan Australia digariskan dalam undang-undang yang membentuk departemen pendidikan negara bagian, universitas, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Tujuan umum ini biasanya dilengkapi dengan tujuan-tujuan yang lebih oleh badan-badan yang relevan. Tujuan pendidikan ini mengisyaratkan perlunya pengembangan antara pelayanan kebutuhan individu dan kebutuhan masyarakat melalui sistem pendidikan. Pada level sekolah, tekanan adalah pada pengembangan potensi murid sebaik mungkin. Pada tingkat pendidikan tinggi, tekanan yang lebih besar diarahkan pada pencapaian kebutuhan pendidikan untuk kepentingan ekonomi serta masyarakat secara umum. Untuk mencapai tujuan umum ini, berbagai sektor pendidikan tinggi harus mempunyai fokus program yang berbeda-beda. Misalnya, universitas lebih mengutamakan pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan sektor pendidikan teknik dan pendidikan lanjutan lainnya lebih memusatkan perhatian pada pendidikan kejuruan.

Struktur pendidikan

Pada dasarnya sistem pendidikan di Australia dapat digolongkan menjadi empat tingkatan, yaitu:

  1. Sekolah Dasar (Primary School)
  2. Sekolah menengah (Secondary or High School)
  3. Pendidikan Kejuruan dan Pelatihan (Vocational Education and Training)
  4. Pendidikan Tinggi (Universitas)

 

Hari Rabu, 23 Oktober 2013

Kegiatan hari ini masih bertempat di gedung EDC. Pemateri untuk hari ini adalah Mary Hudson, seorang instruktur senior yang sudah berusia cukup matang namun masih terlihat ramping dan awet muda. Pembawaannya juga energik dan bersemangat sehingga membuat proses pembelajaran menarik dan efektif.

Materi yang diberikan pada sesi ini adalah tentang behavior management dan learning support.

Behavior management mencakup penanganan guru terhadap siswa di dalam kelas maupun di luar kelas. Ada sebuah kutipan yang sering disampaikan “ The quality of teacher-student relationship is the keystone of all other aspects of classroom management. “ Marzano dan Marzano. Disini jelas bahwa yang akan menentukan kualitas managemen pendidikan adalah kualitas hubungan antara guru dan siswa. Hal yang menjadi tantangan terbesar dalam behavior management adalah:

  1. Kurangnya contoh teladan dari orang tua, lingkungan masyarakat damn system itu sendiri
  2. Kesadaran pribadi

Dalam Learning Support dijelaskan bahwa setiap siswa berhak atas pelayanan pendidikan yang terbaik. Hal ini bisa berlaku bagi mereka yang berkebutuhan khusus karena kekurangan fisik/mental mereka, bisa juga bagi mereka yang memiliki bakat khusus tertentu atau bagi mereka siswa korban perang/bencana alam. Oleh karena itu disusunlah sebuah diffrenciation curriculum, kurikulum yang menjamin perbedaan kebutuhan tiap siswa.

Secara singkat materi ini dapat dijelaskan sebagi berikut:

 

 

Hari Kamis, 24 Oktober 2013

Hari ini kami berpindah lokasi pelatihan di kantor DECD (Department for Education and Child Development) di Flinders street dekat dengan Victoria Square. Kegiatan diisi dengan penerimaan group 4 oleh manager DECD dari bagian International Programs and Business Manager, Daryl Carter. Pada sesi ini Daryl menjelaskan tentang South Australian Government Schools. Secara singkat beliau menjelaskan profil sekolah yang akan kami kunjungi dengan setiap ciri khasnya.

Ternyata untuk mengetahui profil sekolah di SA (South Australia) kita bisa mengaksesnya via internet di alamat www.myschool.edu.au . di sini sudah tersedia dengan lengkap informasi dari setiap sekolah yang ada di Australia.

Selain itu kami juga diberitahukan beberapa aturan ketika nanti berkunjung ke sekolah diantaranya atauran mengambil gambar/foto, larangan menyentuh anak dan aturan lainnya.

 

Sesi kedua hari ini diisi dengan pemaparan Premiers Reading Challenge oleh ibu Mia Damayanti. Program ini di Jawa Barat diberi label Leader Reading Challenge (LRC). Sebuah program yang ditujukan untuk mengangkat kebiasaan dan keterampilan membaca pada setiap individu. Setiap anak ditantang untuk membaca sebanyaknya buku yang mereka bisa dapatkan. Sebagai penghargaan peserta dapat memperoleh piagam sertifikat, medali bahkan hadiah uang bagi mereka yang bisa melampaui tantangan yang diberikan. Sebuah program yang sangat menarik dan bermanfaat karena anak dibiasakan untuk membaca, kemudian menuliskan kembali apa yang di abaca dan selanjutnya mengkomunikasikan apa yang dia fahami dari hasil baca dan tulis nya dihadapan teman-teman dan fasilitatornya.

Selanjutnya kami berkunjung ke Museum of Adelaide

Hari Jumat, 25 Oktober 2013.

Hari ini tidak ada jadwal indoor training. Peserta dipersilahkan melakukan persiapan action plan dalam kegiatan independent development of action plans and personal research. Pada kesempatan ini kami mengunjungi The Central Market untuk mengetahui situasi perdagangan dan pusat perekonomian di kota Adelaide.

Ada banyak wewangian dan riuhnya Pasar Sentral Adelaide, objek wisata yang sangat disenangi di jantung kota Adelaide. Petani dari berbagai penjuru negara bagian ini berkumpul di sini untuk menjual aneka bahan pangan yang menggugah selera, mulai dari tiram hingga minyak zaitun dan keju. Para pedagang di sini menjadi pemasok dapur-dapur Adelaide serta rasa persahabatan dan ritual harian di kota ini.

Selanjutnya kami melaksanakan ibadah sholat Jumat di Mesjid Adelaide. Salah satu masjid pertama yang didirikan di Australia. Sungguh sebuah keharuan tersendiri mendengar lantunan suara adzan di negeri asing karena kita terbiasa mendengarkan panggilan sholat ini setiap waktu di negeri sendiri. Para jamaah terdiri dari berbagai suku bangsa dan Negara, dari Asia, Afrika, Timur tengah maupun Australian Resident. Terlihatlah bahwa perbedaan ini dibalut dalam kesatuan gerak dan irama sholat, sebuah mozaik yang indah.

 

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kegiatan hari ini berupa Social Excursion, perjalanan outdoor menuju points of interest yang ada di kota Adelaide. Kegiatan ini dipandu oleh ibu Rini Budianti juga ibu Mia. Kami berkumpul di South Terrace kemudian diantar menggunakan sebuah bus mengunjungi beberapa tempat seperti Mout Lofty, Hahndorf, Melba dan Gorge Wildlife Park.

Mount Lofty adalah puncak tertinggi di Adelaide. Disini kita bisa melihat kota Adelaide dari ketinggian sehingga tampak jelas bagaimana kota ini disusun dan ditopang oleh daerah-daerah di sekitarnya.

Hahndorf merupakan sebuah desa yang memiliki ciri khas budaya Jerman. Mulai dihuni sejak 1839 oleh kaum Lutheran yang melarikan diri dari penindasan agama di Prusia, Hahndorf mendapat namanya dari kapten kapal mereka.  Nama sang kapten adalah Hahn, sedangkan dorf adalah ‘desa’ dalam bahasa Jerman. Sekarang, sepetak tanah Jerman milik Hahn ini menarik pengunjung dari seluruh dunia. Disini banyak ditemui peternakan sapi, kambing/biri-biri, Llama, kuda dan perkebunan anggur.

Melba adalah sebuah pusat pabrik coklat yang terkenal di South Australia. Perusahaan yang didirikan oleh by Graeme and Joy Foristal pada bulan Maret 1981  ini sudah berjalan turun temurun hingga sekarang.  Produk yang dihasilkan dari pabrik ini adalah berbagai jenis olahan coklat dan permen yang beraneka ragam corak dan warna. Sungguh sayang jika dilewatkan meski hanya sekedar mencicipi sample coklatnya yang gurih manis dan lezat.

Gorge Wildlife Park adalah sebuah pusat pemeliharaan hewan endemic Australia dan beberapa jenis hewan lainnya. Disini bisa ditemukan koala, kangguru, wallaby, wombat, emu, burung, reptile, dan binatang mamalia lainnya. Yang unik adalah pengunjung bisa bercengkrama dengan binatang yang ada karena mereka hidup bebas dan jinak. Berfoto dengan menggendong koala adalah salah satu kegiatan favorit yang diburu oleh para pengunjung wildlife park ini.

Perjalanan Adelaide, South Australia

Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah. Itulah kalimat pertama yang hendaknya terlontar dari lubuk hati terdalam ketika nama saya tercantum dalam daftar peserta pelatihan guru di Adelaide Australia. Betapa tidak dari sekian ribu orang guru yang ada di Jawa Barat hanya 400 orang yang masuk daftar seleksi dari jumlah itu pula, hanya 270 orang saja yang berhak berangkat. Sungguh Allah telah menggariskan dan merencanakan semua yang kita alami dengan indah dan tepat.

 Image

Berawal dari pelatihan Penguatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat di Hotel Takashimaya pada bulan Maret 2013, kami mendapat informasi melalui Bu Endang (Kasie SSN dan SBI Disdik Jabar) bahwa akan ada program pelatihan guru di Australia. Kami, para pengurus MGMP Bahasa Inggris se- jawa barat saat itu menyambut dengan antusias. Namun program ini hanya diperuntukkan bagi guru yang menjadi pengurus MGMP/KKG dan guru yang memiliki sertifikat Guru Berprestasi. Alhamdulillah saya saat ini dipercaya memegang amanah sebagai Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kota Sukabumi untuk periode 2010-2013 dan juga pernah menjadi peserta seleksi Guru Berprestasi dua kali yakni tahun 2009 sebagai Juara II tingkat Kota Sukabumi dan tahun 2010 juara III tingkat Kota Sukabumi. Berbekal dua hal itulah saya memberanikan diri mengikuti seleksi peserta pelatihan guru di Australia ini. alhmadulillah setelah mengikuti seleksi administrasi dan ujian tulis serta wawancara, saya termasuk ke dalam 270  orang guru yang dinyatakan lulus mengikuti pelatihan. Dengan jumlah yang sedemikian, kami dibagi ke dalam 6 kelompok dan saya termasuk ke dalam kelompok ke-4 dengan waktu pemberangkatan tanggal 18 Oktober sampai dengan 16 Nopember 2013. Kami juga mendapatkan pelatihan Pre-departure di Hotel Pesona Bamboe pada bulan Juni 2013 untuk mendapatkan informasi teknis dan sharing pengalaman dari guru-guru yang pernah mengikuti pelatihan serupa sebelumnya. Diharapkan dari pelatihan ini kami lebih siap dan tidak merasa kebingungan dengan segala sesuatunya nanti di Australia.

 

Menjelang Hari pemberangkatan

   

Menjelang hari pemberangkatan, kami grup 4, guru-guru SD dan SMP yang ada di wilayah Jawa Barat mencoba mempersiapkan diri dengan mengadakan rapat konsolidasi dan juga komunikasi dengan sesama peserta agar lebih siap dan matang dalam perencanaan. Bulan September 2013 kami berkumpul di Rumah Makan Ampera Soekarno-Hatta Bandung untuk membicarakan persiapan teknis pemberangkatan kelompok mulai dari pembentukan pengurus kelompok sampai dengan hal-hal teknis lainnya seperti penyiapan souvenir untuk di Australia. Alhamdulillah pak Tantan sebagai Ketua kelompok 4 dapat menjembatani dinamika kelompok dan meskipun jarak yang membentang diantara kami, namun berkat kecanggihan teknologi komunikasi saat ini semuanya dapat teratasi.

 

Saya pun mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk perjalanan ini. dimulai dari mempersiapkan pakaian yang akan dipakai di Australia yang katanya selalu dingin dan hujan sewaktu-waktu juga menyiapkan peralatan komunikasi dan dokumentasi untuk mengabadikan pengalaman di sana. Saya memutuskan hanya membawa pakaian secukupnya saja mengingat di Australia kita tidak terlalu banyak mengeluarkan keringat, jadi pakaian juga tidak cepat kotor dan bau. Hanya pakaian dalam lebih diutamakan demi kesehatan sebaiknya diganti setiap hari. Untuk alat komunikasi saya hanya membawa smartphone dengan pertimbangan praktis bisa dipakai untuk komunikasi, juga bisa untuk dokumentasi. Ternyata sangat bermanfaat terutama dalam mencari informasi peta wilayah dan komunikasi dengan sesama rekan di sana maupun komunikasi dengan keluarga di Indonesia. Untuk keperluan lainnya saya juga membekali diri dengan sebuah laptop kecil agar saya masih bisa menyicil tesis maupun pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan data digital. Yang harus diingat adalah pakaian yang dibawa harus yang berbahan tebal dan hangat tapi juga nyaman dipakai. Celana katun yang tipis dapat membuat anda menderita di perjalanan, bahkan di dalam rumah pun masih terasa dingin.

 

Hari pemberangkatan, Kamis, 18 Oktober 2013

 

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tanggal 12 Oktober 2013 saya dan keluarga berangkat ke Bandung dari Sukabumi dengan kendaraan kecil untuk persiapan perayaan Idul Adha sekaligus mengantar pemberangkatan pelatihan. Hari Kamis, 18 Oktober 2013 kami berkumpul di Dinas Pendidikan provinsi Jawa Barat,  Jalan DR. Radjiman Bandung pukul 11 siang. Dengan ditemani istri dan dua anak saya serta paman sekaligus supir, mereka mengantar keberangkatan saya sampai halaman parkir Dinas Pendidikan. Ada rasa haru dan sedih bercampur melihat orang-orang yang dicinta meninggalkan kita. Namun segera rasa itu beralih dengan semangat dan euphoria akan tantangan dan pengalaman baru yang akan dirasakan nanti. Pukul 13.00 rombongan kami yang semuanya ada 45 orang hanya ada 21 orang saja yang berangkat dari Bandung selebihnya langsung menuju Hotel di Bandara dilepas oleh Bu Endang di dalam bis yang akan mengantar kami ke Hotel dan ke bandara. Cuaca yang cerah turut menambah kesan pemberangkatan kami ke hotel di daerah Banten ini.           

 

Tiba di Hotel Permata Bandara pada hari Kamis 18 oktober ini pukul 5 sore disambut oleh rekan kami yang telah lebih dulu tiba di hotel. Setelah check in dan istirahat sejenak kami mendapatkan makan malam di hotel di daerah Banten ini dengan cuacanya yang panas dan membuat keringat mengucur deras. Pukul 8 malam kami berkumpul di ruang pertemuan hotel untuk mendapatkan penjelasan teknis pemberangkatan dan teknis di bandara. Dari pihak travel (pak Agus) memberikan beberapa tips dan petunjuk bagi kami agar lancar terutama di pemeriksaan barang bagasi dan bawaan. Setelah itu kami mengatur pembagian souvenir untuk dibawa ke Australia melalui ketua kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Esok harinya Jumat, 19 Oktober 2013, Pak Riza datang bersama rombongan dan kembali menjelaskan teknis pemberangkatan dan membagikan fasilitas yang belum kami terima antara lain jaket, uang saku, tanda peserta dan konsumsi selama menunggu di bandara.

 Image

Pukul 14 siang setelah melaksanakan sholat Jumat kami check out dari hotel dengan terlebih dahulu dilakukan penimbangan terhadap bawaan bagasi masing-masing. Berat bagasi yang diperbolehkan adalah maksimal 30 kg untuk tiap orang, sementara barang yang dibawa ke kabin maksimal 7 kg. Tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 15.00 kami dibimbing oleh Ibu Mia melakukan check in dan melalui pemeriksaan beberapa kali. Sementara penerbangan terjadwal pukul 20.20 wib dengan menggunakan maskapai penerbangan Qantas, milik Australia. Kami antri berjajar untuk masuk dan melalui jalur pemeriksaan yang lumayan ketat. Pemeriksaan pertama adalah pintu masuk ke ruang tunggu, yang kedua adalah pemeriksaan Boarding pass dan penyerahan koper bagasi kepada petugas. Selanjutnya kami diperiksa kembali sebelum memasuki gate 12 dimana pesawat terparkir. Alhamdulillah tas saya terkena gerayangan petugas karena kedapatan membawa dua botol Aqua 600ml yang belum sempat dibuka sama sekali. Petugas meminta botol air dikeluarkan dan memberi kesempatan kepada saya untuk meminum air itu sebelum diserahkan dan dikumpulkan kepada petugas.          

 

Selanjutnya kami berkumpul di waiting room gate 12 dan pukul 8 malam lebih kami dipersilahkan masuk ke pesawat. Akhirnya kami pun duduk di kursi pesawat dan ini adalah kali kedua saya naik pesawat setelah sebelumnya pernah naik pesawat ketika pulang dari liburan Bali tahun 2010 kemarin.

Dengan hati berdebar menyebut nama Allah akhirnya pesawat take off dengan suaranya yang lumayan memekakkan telinga. Dimulailah journey to the new world of Australia.   

 Image

Sabtu, 19 Oktober 2013

 

Kami melayang di udara dengan ketinggian sekitar 3000 an dan kecepatan pesawat 900 km/jam wow… amazing. Selama di pesawat kami bisa menikmati fasilitas yang ada antara lain nonton tv, film, mendengarkan musik, ataupun program tv lainnya. Para awak pesawat dengan telaten dan ramah menawarkan makanan dan minuman yang menurut saya rada aneh karena tidak biasa. Untuk makan malam kami diberikan dua pilihan menu antara Spicy Chicken Currie atau Beef. Saya memilih beef karena tidak suka yang pedas dan ternyata daging itu pun terasa pedas… weleh podo bae. Menu lainnya diberikan roti dengan pilihan mentega, susu dan minuman. Untuk minuman ini kami boleh memilih apakah mau jus, susu atau soft drink. Selang beberapa puluh menit kembali kami ditawari minuman dengan pilihan teh atau kopi. Saya memilih teh karena punya masalah dengan lambung yang tidak kuat menerima kopi, suka terasa perih dan mencret. Setelah lima jam mengudara kami hanya melihat langit gelap di jendela pesawat dan waktu subuhpun sudah masuk, saya tayamum dan sholat dengan posisi duduk. Kembali para awak pesawat yang rata-rata sudah senior menawarkan menu sarapan dengan pilihan terbatas. Kami diberikan kue snack 3 buah dengan cocolan bumbu, yoghurt, susu dan buah. Beuh… maklum perut belum terbiasa dengan suasana ekstrim sperti itu kontan membuatnya bergejolak. Wah… perlu ke toilet nih. Pukul 7 pagi lebih beberapa menit pilot memberitahu kami bahwa pesawat akan mendarat dan memang di luar jendela sudah terlihat hamparan kota Sydney yang akan kami jelajahi nanti. Dengan suara gemuruh pesawatpun mendarat dengan mulus. Finally… Australia here we come..!

 Image

Hari pertama di Australia

 

Setelah keluar dari pesawat di Sydney Airport kami mengantri di pintu keluar dan mulailah ketegangan menjalari pembuluh nadi karena pemeriksaan disini lebih ketat dari Jakarta. Kami diharuskan mengisi yellow card untuk mendeclare barang apa saja yang kami bawa ke Australia. Dan tentu saja ada beberapa barang dan komoditas yang sama sekali tidak boleh masuk seperti senjata tajam, produk daging, produk susu, barang yang terbuat dari kayu bahkan tanah yang menempel di sepatu pun harus dideclare… waduh.

Akhirnya setelah antrian panjang dan pemeriksaan paspor dan scanner kami mengantri lagi untuk mengambil bagasi. Dari situ kami berjalan menuju domestic destination untuk check in tiket dan bagasi di penerbangan selanjutnya ke Adelaide, masih menggunakan pesawat Qantas.

Selanjutnya kami menunggu kedatangan bis yang akan mengantar kami berkeliling kota Sydney selama setengah hari. Tujuan utama kami adalah Opera House dan Sydney harbour bridge yang sudah menjadi landmarknya Australia. Belum ke Australia jika belum berfoto dengan background opera house… hahaha. 

Setelah mengelilingi kota dengan berbagai keunikannya kami berhenti sejenak di sebuah taman untuk menikmati keindahan scenic view Sydney opera house dengan Harbour bridge yang menjulang melintasi teluk dengan riak air laut yang berwarna keperakan terkena sinar matahari. Subhanallah, maha suci Allah yang telah memberikan kami kesempatan untuk melihat salah satu tempat yang begitu indah. Sungguh keindahan ini tidak ada taranya jika dibandingkan dengan keindahan-Mu ya Robb. Berfoto adalah kegiatan kami yang paling intens dan heboh. Berbagai pose dan gaya dilakukan untuk mengabadikan perjalanan ini. 15 menit kami disana, bus kembali mengantar kami untuk melihat lebih dekat ke lokasi Sydney Opera House.

Sungguh luar biasa dan kagum itulah kesan pertama yang muncul. Betapa tidak, situasi yang ramai tapi tetap tertib dan bersih. Terlihat banyak orang bersantai dan bercengkrama karena memang di hari weekend seperti ini banyak yang menghabiskan waktu di sini. Meskipun begitu kami masih menemukan beberapa sampah yang tercecer di jalanan entah apakh disengaja atau tidak, namun jika dibandingkan dengan kesadaran kita di negeri sendiri akan kebersihan masih jauh tertinggal.

 

Dari sini kami diajak Paddy’s Market, pasar souvenir dan barang kebutuhan lainnya yang katanya paling murah di Sydney. Masuk ke area pasar banyak sekali toko memajang souvenir mulai dari yang ukurannya kecil sampai yang berukuran besar, dari pin dan gantungan kunci sampai dengan alat-alat elektronik ada disini. Beberapa orang rekan langsung memborong barang dan memburu daftar oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke Indonesia nanti. Saya sempat berfikir baru saja sampai di Australia belum juga mulai pelatihannya sudah harus sibuk dengan oleh-oleh haduh…

 

Selanjutnya kami kembali naik ke dalam bus dan diantar ke sebuah Kafe milik orang Indonesia dari banjarmasin untuk makan siang dan menunya adalah ayam goreng, daging rendang serta kuah sayur yang begitu terasa lezat.  Terasa seperti masih di Indonesia saja karena yang melayaninya juga berbahasa Indonesia. Lepas dari situ kami menuju sebuah Mesjid di kota Sydney. Subhanallah, hanya saya tidak turun dari bis karena sudah melaksanakan sholat di bis dengan jama’ qoshar. Akhirnya kembali kami diantar ke Sydney Airport untuk melanjutkan perjalanan menuju Adelaide.

 

Waktu menunjukkan pukul 3 sore waktu Sydney kami sampai di Airport dan masuk melalui pintu domestic destination setelah terlebih dahulu melewati pintu pemeriksaan. Pesawat kami adalah Qantas dengan nomor penerbangan QF 765 dan lepas landas pada pukul 3.40 waktu Sydney.

Di dalam pesawat kami disuguhi makanan ringan dan minuman oleh pramugari dan pramugara yang nampaknya masih lebih muda dibandingkan awak Qantas dari Jakarta ke Sydney. Masih segar-segar hehehe..

 

Mendekati Kota Adelaide kami bisa melihat dengan jelas kondisi geografis Adelaide dari atas dimana sebagian wilayahnya berupa padang rumput dan berbukit-bukit sementara bagian lainnya banyak lahan kosong tandus  tanpa ada tanaman. Kapten pilot memberitahu kami bahwa pesawat akan segera mendarat dan meminta penumpang merapihkan tempat duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Alhamdulillah pesawat dapat mendarat dengan sempurna dan tibalah kami di Adelaide, australia pukul 5 sore.

Keluar dari pesawat kami sudah disambut oleh para Host Family (HF) masing-masing. Syukurlah HF kami, dengan pa Juanda, adalah Elaine Barnes dan Geoff Henley  orang-orang yang baik dan pengertian. Kami saling bertegursapa dan berkenalan kemudian mengantri di tempat pengambilan bagasi. Elaine membawa trolley untuk menyimpan koper dan tas kami sementara kami kembali mengantri untuk menerima fasilitas yang belum diterima yakni kartu Lycamobile, Metrocard untuk tiket transportasi, dan amplop berisi uang saku.

 Image

HF kami mengantar dari Adelaide airport menggunakan kendaraan sedan berwarna merah dan kami diajak berkeliling terlebih dahulu di sekitar kota Adelaide dan juga tempat-tempat yang akan menjadi lokasi kegiatan pelatihan di Adelaide ini. Akhirnya kami sampai di rumah HF yang beralamat di Albert street 71, Clarence Garden, tidak terlalu jauh dari pusat kota Adelaide, hanya sekitar 7 km saja. Kedatangan kami disambut oleh dua ekor anjing peliharaan Elaine, Kathie dan Jacky. Sempat kaget juga dan takut namun HF kami segera menyuruh anjing-anjing itu untuk tenang dan duduk.

Kathie adalah sejenis anjing terrier berukuran sedang, sedangkan Jacky termasuk jenis cavalier king or charles spaniel. Mencoba untuk beradaptasi dengan mereka adalah tantangan kami berikutnya terutama dengan pola hidup dan penghuni rumah termasuk binatang peliharaan mereka. Bahkan Elaine menjelaskan bahwa anjing bagi mereka adalah “furr kids” diibaratkan anak oleh mereka.

 

Kami dipersilakan menempati sebuah kamar berukuran sedang dengan furnitur lengkap. Ada empat buah lemari pakaian, satu meja belajar, satu meja rias, dua nakas lengkap dengan lampu tidur, satu kursi putar dan satu kursi sofa. Wah padat sekali isi kamar ini sehingga untuk sholat hanya bisa untuk satu orang saja. Setelah istirahat sebentar kami diajak makan malam bersama di ruang makan dengan menu yang lumayan mengagetkan lagi, nasi kari campur saus tomat didalam sebuah paprika besar. Waduh rasanya lumayan aneh tapi karena lapar kami sikat sampai habis. Minuman yang disediakan cukup bervariasi, kita boleh memilih minum teh, kopi, susu, jus maupun softdrink bahkan bandrek dan bajigur pun ada. Beuh…lengkap. Sambil makan kami mengobrol dalam bahasa inggris tentunya, mengenai hal-hal yang menarik juga mengenai jadwal kegiatan dan hal lainnya. Setelah itu kami pamitan untuk mandi dan istirahat.

 

Hari Minggu, 20 Oktober 2013.

 

Kami terbangun karena cuaca yang dingin sekali dan ternyata sudah subuh. Cara mengambil wudhu merupakan tantangan lain karena Ozzy sangat anti kamar mandi yang basah, mereka suka yang kering. Lain dengan orang Jawa Barat yang biasa berbasah-basahan di kamar mandinya. Untuk wudhu saya menggunakan air dari wastafel dan mengusahakan sebisa mungkin agar tidak ada air yang muncrat ke lantai. Setelah melaksanakan sholat subuh saya mencoba baca-baca buku yang ada di kamar dan juga buku petunjuk kegiatan dari panitia. Pukul 8 kami dipanggil untuk sarapan dan ternyata menunya sederhana saja, ada cornflake disiram susu, roasted bread, selai strawberry dan jus buah apel. Hmm… perlu penyesuaian lagi terutama dengan susu dan rasa asam dari jus apalagi di pagi hari. Sambil sarapan kami diberitahu bahwa mereka akan keluar rumah pergi ke gereja sampai jam 10.30 dan kami ditinggal di rumah.

Untuk permulaan, kami putuskan untuk sedikit menjelajah suasana kompleks rumah. Kami berjalan ke arah timur dan tampak suasana jalanan yang lengang dan sepi. Ada banyak mobil terparkir di pinggir jalan namun jarang kami lihat orang berlalu-lalang di jalanan. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang bule yang berolahraga sambil menuntun anjing mereka. Kami mengucapkan sapaan hello pada mereka sebagai tanda persahabatan. Ada yang membalas dengan ramah ada juga yang cuek terus berjalan. Sama lah seperti di kita, ada yang baik ada juga yang kurang baikya. Kami mensurvey bus stop 15 dimana kami akan naik jika harus berangkat ke kota. Juga kami lihat ada seseorang yang memasang pengumumam “garage sale” di Kyeema Avenue 24, kami tertarik untuk melihat barang apa saja yang mereka jual. Ternyata banyak barang yang mereka keluarkan, mulai dari piring gelas, alat listrik, buku-buku, bahkan beberapa furnitur. Hmm… saya menemukan beberapa buku menarik dengan harga pukul rata yakni $1 untuk tiap buku. Diambillah 4 buah buku dan kami segera kembali ke rumah HF. 

 

Geoff pulang dari gereja dan mengajak kami dengan mobilnya untuk mengelilingi kota dan juga pantai Glenelg. Dia juga menunjukkan lokasi sekolah yang akan kami kunjungi yakni Hamilton Secondary College di Marion Road. Terlihat suasana kota Adelaide yang rapih dan bersih serta kebanyakan kendaraan yang terlihat berupa sedan, motor hanya sesekali terlihat itupun motor besar, tidak ada jenis bebek seperti di kita. Paling banter adalah skooter sehingga nampak lucu orangnya tinggi besar sementara motornya mungil.

Image

Originally posted on BOSCO:

STRUKTUR KEPENGURUSAN

BOSCO

BAJAJ OWNERS COMMUNITY

CHAPTER SUKABUMI

 

KETUA

 

Handika Pramesthi

 

 

Wakil ketua

 

Donas

 

Bendahara                             Sekretaris

 

Arief                                 Jody

 

 

                    

 

Divisi – Divisi

 

 

 

Divisi HUmas

 

Iyus Kumpay

 


 

Divisi Touring & Sowan

 

Heru Yogie

 


 

Divisi Membership

 

Ayud Helmi

 


 

Divisi Penggalian Penggalangan Dana

 

Sihabudin


 

 

Divisi Promosi & IT

 

Ade Sobandi

 

 

 

View original

Passing Grade SMP Negeri 6 Kota Sukabumi tahun 2010/2011

 

Update Informasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP Negeri 6 Kota Sukabumi tahun ajaran 2010 – 21011

Passing Grade per hari Jum’at 25 Juni 2010

nilai UN 20,70

  

Jumlah Pendaftar 274

Nilai tertinggi 27,40

Nilai terkecil 14,10

Demikian Informasi ini dibuat dan akan terus diupdate sampai dengan tanggal 30 Juni 2010

Mencegah Semut Masuk ke Rumah

KOMPAS.com – Paling kesal bila kerumunan semut menyerbu makanan favorit yang sengaja Anda sisihkan. Padahal, Anda sudah berusaha meletakkan makanan tersebut dengan cara tertentu agar semut tak sanggup mencapainya.

Membasmi semut menggunakan pestisida memang efektif, namun hal ini sebaiknya tidak menjadi pilihan bila semut berdekatan dengan makanan Anda. Lagipula, hal ini ternyata tidak menyelesaikan akar masalahnya.

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membasmi semut, namun yang terpenting adalah mengetahui darimana datang sehingga Anda mampu mencegah mereka memasuki rumah Anda lagi.

Cegah mereka datang
Bila ada lubang atau celah yang memungkinkan semut masuk, segera sumbat celahan tersebut. Dahan-dahan pohon yang panjang menjuntai hingga menyentuh dinding rumah sebaiknya juga dipangkas. Dengan demikian Anda tidak memberi kesempatan semut untuk mencapai rumah Anda.

Menyebarkan kayu manis, cabe rawit, atau cengkeh, dimana iring-iringan semut bergerak juga dapat menghalangi mereka memasuki rumah. Bahan lain yang bisa Anda gunakan antara lain bayleaf, daun mint, atau teh celup aroma peppermint.

Buat mereka kelaparan
Semut bisa mengganyang remah terkecil dari makanan, atau tetesan air. Namun bila mereka tak dapat menemukan sesuatu yang bisa dimakan, mereka tidak akan datang.

Karena itu, simpan makanan ke dalam kotak makanan yang tertutup rapat. Cuci dan keringkan peralatan makan Anda segera setelah digunakan. Jika Anda belum sempat mencuci piring dan hanya meninggalkannya di kitchen sink, rendam piring-piring dengan air sabun. Keringkan rak atau meja dapur dengan cermat, dan pastikan tidak ada air keran yang masih menetes. Segera buang sampah yang sudah memenuhi tempat sampah.

Jauhkan mereka dari rumah Anda
Jika ada satu area yang tengah dirubung semut, Anda bisa mencoba menghalau mereka dengan menyemprotkan cairan yang merupakan campuran satu sendok teh sabun cair dan air. Masukkan cairan tersebut ke dalam botol semprot ukuran 1 liter. Cairan ini akan menenggelamkan semut dan menghancurkan semua jejak kimiawi yang ditinggalkan oleh semut pekerja. Dengan demikian hal ini akan mencegah lebih banyak semut yang memasuki rumah Anda.

Anda juga bisa membuat “jebakan semut” dari campuran boraks, gula, dan air. Hati-hati, jangan sampai bahan ini tertelan oleh anak-anak atau peliharaan yang lain. Cara lain adalah menaburkan tepung jagung di sekitar lubang atau jejak semut, karena mereka tidak dapat mencerna tepung jagung dengan semestinya.

Masih gagal juga? Coba temukan sarangnya, dan hancurkan koloni mereka. Tuangkan madu atau sirup ke atas papan karton mengikuti jejak semut, dan lalu dekatkan ke sarangnya. Jika sarangnya ada di luar, tuangkan semangkuk air panas atau lebih di atasnya.

DIN

Editor: din

Sumber: green.yahoo.com

IKRAR GURU INDONESIA

IKRAR GURU INDONESIA

  1. Kami Guru Indonesia, adalah insan pendidik bangsa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Kami Guru Indonesia, adalah pengemban dan pelaksana cita-cita dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pembela dan pengamal Pancasila yang setia pada UUD’45
  3. Kami Guru Indonesia, bertekad bulat mewujudkan tujuan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
  4. Kami Guru Indonesia, bersatu dalam wadah organisasi perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia, membina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak kekeluargaan.
  5. Kami Guru Indonesia, menjunjung tinggi kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman tingkah laku profesi dalam pengabdian terhadap Bangsa, Negara serta kemanusiaan.

Kode Etik Guru

download disini  kode-etik-guru-indonesia

HOTFILE

http://sobandiclan.wordpress.com/:

<meta name=”hotfile” content=”hotfile.com-adesobandi-78dd28713e4c594″>

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.