Sebuah Muhasabah

Kadang dalam keheningan malam diantara desiran angin di dedaunan dan helaan napas yang teratur dari penghuni kamar muncul sebuah kilasan-kilasan fikiran dan lintasan-lintasan kesadaran.

Sadar bahwa selama ini hidup dalam jalan yang sudah jauh dari benar. Haus dan kering dari jatuhan segarnya embun hidayah. Kadang roda hidup hanya berputar mengikuti waktu dan arah yang ramai.

Sekilas muncul keinginan untuk kembali meniti jalan yang teduh, manis dan segar dengan segala kebahagiannya, dengan segala gemuruh gejolak dada dan ruh. Hati begitu nyaman, segar, damai dan tenang. Dunia terlihat lebih hijau, lebih lembut dan lebih ceria.  Tapi itu hanya sekilas yang kembali tertelan oleh debu-debu permasalahan dan tugas-tugas yang tidak pernah dicoba untuk diselesaikan. Tertarik kembali oleh pecutan, bujukan, rayuan bahkan ancaman nafsu duniawi.

Tak sadar bahwa hidup ini akan berakhir. Hidup di dunia ini tidak akan abadi. Apa yang kita perjuangkan selama ini ternyata hanyalah fatamorgana di tengah padang pasir tandus tak berair. Semua akan berakhir, semua akan hancur, semuanya tidak ada yang setia dan loyal pada kita.

Apa yang selama ini kita usahakan hanyalah untuk mengejar dorongan keinginan manusiawi yang kadang-kadang sulit difahami. Semuanya besifat semu.

Mungkin ketika saya tidak punya hape, saya berfikir “ooohh, alangkah enaknya jika saya punya hape. Bisa berkomunikasi dimana saja, tambah gaya, tambah pede dan tambah pengeluaran haha..” tapi setelah hape itu ada di tangan, kembali saya berkhayal… “Kayanya kalo hape nya ada kameranya bagus deh, saya bisa mengabadikan apa saja yang saya lihat dan alami.” teruuuss keinginan dan khayalan serta angan kita bergerak maju tanpa ada rasa cukup.

Padahal setelah semua ada, kadang kita lupa bahwa kita punya barang tersebut.

Ini pengingat untuk saya pribadi. Ingatlah hidup ini akan berakhir. Tidak ada faedah dari harta dan usaha yang kita miliki setelah kita mati. hanyalah amal kita. Amal baik yang kita lakukan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan apapun dari manusia. Amalan yang kita kerjakan semata karena Allah, SWt.

PAs saya menulis ini, tubuh saya meriang panas dingin karena adanya sentuhan ruhiyah yang mengelus-elus kesadaran ku. Sadar bahwa hidup ini bukanlah dunia yang menjadi tujuan. Tapi akhiratlah yang harus kita perhitungkan.

Ya Allah, janganlah engkau palingkan hati ini setelah Engkau beri petunjuk. kuatkan iman hamba ya Rob. Jangan biarkan hati ini keras dan membatu yang kadang susah untuk sekedar bersimpati dan berempati pada mahlukmu yang ada di sekitarku. aminnn.

2 responses to this post.

  1. Subhanallah….

    Reply

  2. Allahuakbar

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: