Perjalanan Adelaide, South Australia Bagian 2

HF kami mengantar dari Adelaide airport menggunakan kendaraan sedan berwarna merah dan kami diajak berkeliling terlebih dahulu di sekitar kota Adelaide dan juga tempat-tempat yang akan menjadi lokasi kegiatan pelatihan di Adelaide ini. Akhirnya kami sampai di rumah HF yang beralamat di Albert street 71, Clarence Garden, tidak terlalu jauh dari pusat kota Adelaide, hanya sekitar 7 km saja. Kedatangan kami disambut oleh dua ekor anjing peliharaan Elaine, Kathie dan Jacky. Sempat kaget juga dan takut namun HF kami segera menyuruh anjing-anjing itu untuk tenang dan duduk.

Kathie adalah sejenis anjing terrier berukuran sedang, sedangkan Jacky termasuk jenis cavalier king or charles spaniel. Mencoba untuk beradaptasi dengan mereka adalah tantangan kami berikutnya terutama dengan pola hidup dan penghuni rumah termasuk binatang peliharaan mereka. Bahkan Elaine menjelaskan bahwa anjing bagi mereka adalah “furr kids” diibaratkan anak oleh mereka.

 

Kami dipersilakan menempati sebuah kamar berukuran sedang dengan furnitur lengkap. Ada empat buah lemari pakaian, satu meja belajar, satu meja rias, dua nakas lengkap dengan lampu tidur, satu kursi putar dan satu kursi sofa. Wah padat sekali isi kamar ini sehingga untuk sholat hanya bisa untuk satu orang saja. Setelah istirahat sebentar kami diajak makan malam bersama di ruang makan dengan menu yang lumayan mengagetkan lagi, nasi kari campur saus tomat didalam sebuah paprika besar. Waduh rasanya lumayan aneh tapi karena lapar kami sikat sampai habis. Minuman yang disediakan cukup bervariasi, kita boleh memilih minum teh, kopi, susu, jus maupun softdrink bahkan bandrek dan bajigur pun ada. Beuh…lengkap. Sambil makan kami mengobrol dalam bahasa inggris tentunya, mengenai hal-hal yang menarik juga mengenai jadwal kegiatan dan hal lainnya. Setelah itu kami pamitan untuk mandi dan istirahat.

 

Hari Minggu, 20 Oktober 2013.

 

Kami terbangun karena cuaca yang dingin sekali dan ternyata sudah subuh. Cara mengambil wudhu merupakan tantangan lain karena Ozzy sangat anti kamar mandi yang basah, mereka suka yang kering. Lain dengan orang Jawa Barat yang biasa berbasah-basahan di kamar mandinya. Untuk wudhu saya menggunakan air dari wastafel dan mengusahakan sebisa mungkin agar tidak ada air yang muncrat ke lantai. Setelah melaksanakan sholat subuh saya mencoba baca-baca buku yang ada di kamar dan juga buku petunjuk kegiatan dari panitia. Pukul 8 kami dipanggil untuk sarapan dan ternyata menunya sederhana saja, ada cornflake disiram susu, roasted bread, selai strawberry dan jus buah apel. Hmm… perlu penyesuaian lagi terutama dengan susu dan rasa asam dari jus apalagi di pagi hari. Sambil sarapan kami diberitahu bahwa mereka akan keluar rumah pergi ke gereja sampai jam 10.30 dan kami ditinggal di rumah.

Untuk permulaan, kami putuskan untuk sedikit menjelajah suasana kompleks rumah. Kami berjalan ke arah timur dan tampak suasana jalanan yang lengang dan sepi. Ada banyak mobil terparkir di pinggir jalan namun jarang kami lihat orang berlalu-lalang di jalanan. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang bule yang berolahraga sambil menuntun anjing mereka. Kami mengucapkan sapaan hello pada mereka sebagai tanda persahabatan. Ada yang membalas dengan ramah ada juga yang cuek terus berjalan. Sama lah seperti di kita, ada yang baik ada juga yang kurang baikya. Kami mensurvey bus stop 15 dimana kami akan naik jika harus berangkat ke kota. Juga kami lihat ada seseorang yang memasang pengumumam “garage sale” di Kyeema Avenue 24, kami tertarik untuk melihat barang apa saja yang mereka jual. Ternyata banyak barang yang mereka keluarkan, mulai dari piring gelas, alat listrik, buku-buku, bahkan beberapa furnitur. Hmm… saya menemukan beberapa buku menarik dengan harga pukul rata yakni $1 untuk tiap buku. Diambillah 4 buah buku dan kami segera kembali ke rumah HF. 

 

Geoff pulang dari gereja dan mengajak kami dengan mobilnya untuk mengelilingi kota dan juga pantai Glenelg. Dia juga menunjukkan lokasi sekolah yang akan kami kunjungi yakni Hamilton Secondary College di Marion Road. Terlihat suasana kota Adelaide yang rapih dan bersih serta kebanyakan kendaraan yang terlihat berupa sedan, motor hanya sesekali terlihat itupun motor besar, tidak ada jenis bebek seperti di kita. Paling banter adalah skooter sehingga nampak lucu orangnya tinggi besar sementara motornya mungil.

 

Lalu kami kembali ke rumah dan menunggu kepulangan Elaine dari acara baby shower party, semacam acara tujuh bulanan bayi dalam kandungan. Yang membedakannya adalah disini hanya berlaku untuk anak pertama saja, sementara di kita untuk setiap kehamilan tanpa mengitung anak keberapa. Setelah makan malam, kami kembali mengobrol sebisa kami dan terkadang miskomunikasi terjadi karena keterbatasan pemahaman bahasa masing-masing.

 

Hari Senin, 21 Oktober 2013

Seperti sebelumnya saya terbangun oleh suara alarm adzan subuh dari handphone dan segera melasanakan sholat. Sambil menunggu siang dan menghilangkan rasa dingin, kami berselimut ria sambil internetan tak terasa sudah jam 7.30 pagi. Kami pergi ke ruang makan dan menyiapkan sarapan berupa mie instan, roasted bread dan secangkir teh manis. Rupanya terjadi salahpaham antara kami dan Elaine, kami mengira akan berangkat jam 8 lebih, ternyata harusnya jam 7.40 harus sudah ada di bus stop. Waduh, akirnya Elaine mengeluarkan mobil dan mengantarkan kami sampai ke EDC (Education Development Center), tadinya Elaine akan mengantarkan kami menggunakan bus dan tram biar kami tahu route perjalanannya. Ya sudah ini adalah pembelajaran bagi kami untuk bersiap lebih pagi. Sampai di EDC ternyata hanya memakan waktu kurang dari setengah jam saja. Pukul 8.30 kami sampai didepan EDC dan turun dari mobil sambil diteriaki oleh beberapa rekan yang sudah lebih dulu sampai. “anak mamii… diantar ..!!” ah biarkan sajalah.    

Jam 9 kami masuk ke ruangan yang sangat mewah, rapi dan bersih dengan lantainya yang dilapisi karpet tebal. Sungguh berbeda dengan kita disini ruangan kebanyakan dilapisi karpet namun tetap dalam keadaan bersih dan rapih. Tidak terlihat ada sampah. Masuk ke ruangan, kami sudah ditunggu oleh pemateri dari EDC yaitu Susan Boucher. Beliau seorang guru yang sudah senior dan sekarang tugasnya adalah memberi pelatihan kepada guru-guru se Australia. Sungguh beruntung kita mendapatkan pemateri sekaliber beliau.

Materi hari pertama ini diisi dengan sejumlah informasi awal dari program pelatihan ini.

Several points that  I got from her are Australian should respect the aborigin people as they own the land actually, the land that where they used to hunt, fish, live and grow their children. It is said that South Australia is well known by its Tram, food, wine, the rivers and also the view of the sea.

 

Materi selanjutnya adalah tentang penentuan clasroom rules dimana semua siswa dan guru terlibat aktif dalam menentukan aturan kelas. Peraturan ditentukan sendiri oleh semua warga kelas dan ketika sudah disepakati bersama, semuanya punya kewajiban yang sama untuk konsisten mematuhi aturan tersebut. Dengan pendekatan ini semua siswa merasa memiliki tanggungjawab yang sama dan posisi yang sama sehingga akan lebih sadar dan commited to the rules. Peraturan itu kemudian dituliskan dan ditempel di dinding kelas agar semua orang mengetahui aturan tersebut. Jika ada yang melanggar guru cukup menunjuk anak tersebut dan diminta melihat atau membaca aturan. Otomatis siswa tersebut akan sadar bahwa dia melanggar dan kembali ke jalannya yang lurus.

 

Selanjutnya kami diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi gaya belajar masing-masing. Kami diminta untuk mengisi rubrik pertanyaan yang mengarah pada gaya belajar masing-masing. Semuanya ada empat style yakni pragmatis, activist, theorist, dan reflector.

Honey and Mumford learning cycle menjelaskan hal ini sebagi berikut:

  • Activist – oriented to immediate tasks, works flexibly but may not think about future consequences and may be self-centred. Probably learns best by practical experimentation and experience, e.g. as an assistant or apprentice.
  • Reflector – observes and collects information before acting, acts cautiously and keeps the ‘bigger picture’ in mind. Probably learns best through individual research.
  • Theorist – works logically, in an ordered sequence, builds information into a theoretical or rational structure. Works best on the basis of principles, models and systems. Probably learns best through structured interaction, e.g. a training course.
  • Pragmatist – deals with immediate issues, is ‘hands on’ and wants to experiment. Enjoys applying theory to practice. Probably learns best by doing the job, but with a mentor.

  

 

Menurut hasil penelitian para ahli, ada beberapa learning style yang dapat diamati antara lain

  • Visual (spatial):You prefer using pictures, images, and spatial understanding.
  • Aural (auditory-musical): You prefer using sound and music.
  • Verbal (linguistic): You prefer using words, both in speech and writing.
  • Physical (kinesthetic): You prefer using your body, hands and sense of touch.
  • Logical (mathematical): You prefer using logic, reasoning and systems.
  • Social (interpersonal): You prefer to learn in groups or with other people.
  • Solitary (intrapersonal): You prefer to work alone and use self-study.

 

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan simulasi kemampuan daya ingat dengan melakukan sebuah permainan. Games yang digunakan adalah mengedarkan sejumlah barang dengan cepat dari satu kelompok kepada kelompok lainnya terus menerus. Kemudian barang dikembalikan ke tempat semula dan semua peserta diminta menuliskan nama-nama barang yang mereka lihat dan ingat. Dari lebih dari 30 jenis barang yang diedarkan terlihat variasi daya ingat dari peserta pelatihan. Ada yang bisa mengingat hampir semua barang ada juga yang hanya bisa mengingat sebagian saja.

 

Hari Selasa, 22 Oktober 2013

 

Kegiatan hari ini tetap dilaksanakan di gedung EDC (Education development center) dan pematerinya pun masih sama yaitu Susan Boucher. Kali ini Susan memberikan materi tentang pengenalan sistem pendidikan di Australia baik secara keseluruhan maupun khusus Pendidikan di South Australia.

Tujuan umum berbagai sektor pendidikan Australia digariskan dalam undang-undang yang membentuk departemen pendidikan negara bagian, universitas, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Tujuan umum ini biasanya dilengkapi dengan tujuan-tujuan yang lebih oleh badan-badan yang relevan. Tujuan pendidikan ini mengisyaratkan perlunya pengembangan antara pelayanan kebutuhan individu dan kebutuhan masyarakat melalui sistem pendidikan. Pada level sekolah, tekanan adalah pada pengembangan potensi murid sebaik mungkin. Pada tingkat pendidikan tinggi, tekanan yang lebih besar diarahkan pada pencapaian kebutuhan pendidikan untuk kepentingan ekonomi serta masyarakat secara umum. Untuk mencapai tujuan umum ini, berbagai sektor pendidikan tinggi harus mempunyai fokus program yang berbeda-beda. Misalnya, universitas lebih mengutamakan pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan sektor pendidikan teknik dan pendidikan lanjutan lainnya lebih memusatkan perhatian pada pendidikan kejuruan.

Struktur pendidikan

Pada dasarnya sistem pendidikan di Australia dapat digolongkan menjadi empat tingkatan, yaitu:

  1. Sekolah Dasar (Primary School)
  2. Sekolah menengah (Secondary or High School)
  3. Pendidikan Kejuruan dan Pelatihan (Vocational Education and Training)
  4. Pendidikan Tinggi (Universitas)

 

Hari Rabu, 23 Oktober 2013

Kegiatan hari ini masih bertempat di gedung EDC. Pemateri untuk hari ini adalah Mary Hudson, seorang instruktur senior yang sudah berusia cukup matang namun masih terlihat ramping dan awet muda. Pembawaannya juga energik dan bersemangat sehingga membuat proses pembelajaran menarik dan efektif.

Materi yang diberikan pada sesi ini adalah tentang behavior management dan learning support.

Behavior management mencakup penanganan guru terhadap siswa di dalam kelas maupun di luar kelas. Ada sebuah kutipan yang sering disampaikan “ The quality of teacher-student relationship is the keystone of all other aspects of classroom management. “ Marzano dan Marzano. Disini jelas bahwa yang akan menentukan kualitas managemen pendidikan adalah kualitas hubungan antara guru dan siswa. Hal yang menjadi tantangan terbesar dalam behavior management adalah:

  1. Kurangnya contoh teladan dari orang tua, lingkungan masyarakat damn system itu sendiri
  2. Kesadaran pribadi

Dalam Learning Support dijelaskan bahwa setiap siswa berhak atas pelayanan pendidikan yang terbaik. Hal ini bisa berlaku bagi mereka yang berkebutuhan khusus karena kekurangan fisik/mental mereka, bisa juga bagi mereka yang memiliki bakat khusus tertentu atau bagi mereka siswa korban perang/bencana alam. Oleh karena itu disusunlah sebuah diffrenciation curriculum, kurikulum yang menjamin perbedaan kebutuhan tiap siswa.

Secara singkat materi ini dapat dijelaskan sebagi berikut:

 

 

Hari Kamis, 24 Oktober 2013

Hari ini kami berpindah lokasi pelatihan di kantor DECD (Department for Education and Child Development) di Flinders street dekat dengan Victoria Square. Kegiatan diisi dengan penerimaan group 4 oleh manager DECD dari bagian International Programs and Business Manager, Daryl Carter. Pada sesi ini Daryl menjelaskan tentang South Australian Government Schools. Secara singkat beliau menjelaskan profil sekolah yang akan kami kunjungi dengan setiap ciri khasnya.

Ternyata untuk mengetahui profil sekolah di SA (South Australia) kita bisa mengaksesnya via internet di alamat www.myschool.edu.au . di sini sudah tersedia dengan lengkap informasi dari setiap sekolah yang ada di Australia.

Selain itu kami juga diberitahukan beberapa aturan ketika nanti berkunjung ke sekolah diantaranya atauran mengambil gambar/foto, larangan menyentuh anak dan aturan lainnya.

 

Sesi kedua hari ini diisi dengan pemaparan Premiers Reading Challenge oleh ibu Mia Damayanti. Program ini di Jawa Barat diberi label Leader Reading Challenge (LRC). Sebuah program yang ditujukan untuk mengangkat kebiasaan dan keterampilan membaca pada setiap individu. Setiap anak ditantang untuk membaca sebanyaknya buku yang mereka bisa dapatkan. Sebagai penghargaan peserta dapat memperoleh piagam sertifikat, medali bahkan hadiah uang bagi mereka yang bisa melampaui tantangan yang diberikan. Sebuah program yang sangat menarik dan bermanfaat karena anak dibiasakan untuk membaca, kemudian menuliskan kembali apa yang di abaca dan selanjutnya mengkomunikasikan apa yang dia fahami dari hasil baca dan tulis nya dihadapan teman-teman dan fasilitatornya.

Selanjutnya kami berkunjung ke Museum of Adelaide

Hari Jumat, 25 Oktober 2013.

Hari ini tidak ada jadwal indoor training. Peserta dipersilahkan melakukan persiapan action plan dalam kegiatan independent development of action plans and personal research. Pada kesempatan ini kami mengunjungi The Central Market untuk mengetahui situasi perdagangan dan pusat perekonomian di kota Adelaide.

Ada banyak wewangian dan riuhnya Pasar Sentral Adelaide, objek wisata yang sangat disenangi di jantung kota Adelaide. Petani dari berbagai penjuru negara bagian ini berkumpul di sini untuk menjual aneka bahan pangan yang menggugah selera, mulai dari tiram hingga minyak zaitun dan keju. Para pedagang di sini menjadi pemasok dapur-dapur Adelaide serta rasa persahabatan dan ritual harian di kota ini.

Selanjutnya kami melaksanakan ibadah sholat Jumat di Mesjid Adelaide. Salah satu masjid pertama yang didirikan di Australia. Sungguh sebuah keharuan tersendiri mendengar lantunan suara adzan di negeri asing karena kita terbiasa mendengarkan panggilan sholat ini setiap waktu di negeri sendiri. Para jamaah terdiri dari berbagai suku bangsa dan Negara, dari Asia, Afrika, Timur tengah maupun Australian Resident. Terlihatlah bahwa perbedaan ini dibalut dalam kesatuan gerak dan irama sholat, sebuah mozaik yang indah.

 

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kegiatan hari ini berupa Social Excursion, perjalanan outdoor menuju points of interest yang ada di kota Adelaide. Kegiatan ini dipandu oleh ibu Rini Budianti juga ibu Mia. Kami berkumpul di South Terrace kemudian diantar menggunakan sebuah bus mengunjungi beberapa tempat seperti Mout Lofty, Hahndorf, Melba dan Gorge Wildlife Park.

Mount Lofty adalah puncak tertinggi di Adelaide. Disini kita bisa melihat kota Adelaide dari ketinggian sehingga tampak jelas bagaimana kota ini disusun dan ditopang oleh daerah-daerah di sekitarnya.

Hahndorf merupakan sebuah desa yang memiliki ciri khas budaya Jerman. Mulai dihuni sejak 1839 oleh kaum Lutheran yang melarikan diri dari penindasan agama di Prusia, Hahndorf mendapat namanya dari kapten kapal mereka.  Nama sang kapten adalah Hahn, sedangkan dorf adalah ‘desa’ dalam bahasa Jerman. Sekarang, sepetak tanah Jerman milik Hahn ini menarik pengunjung dari seluruh dunia. Disini banyak ditemui peternakan sapi, kambing/biri-biri, Llama, kuda dan perkebunan anggur.

Melba adalah sebuah pusat pabrik coklat yang terkenal di South Australia. Perusahaan yang didirikan oleh by Graeme and Joy Foristal pada bulan Maret 1981  ini sudah berjalan turun temurun hingga sekarang.  Produk yang dihasilkan dari pabrik ini adalah berbagai jenis olahan coklat dan permen yang beraneka ragam corak dan warna. Sungguh sayang jika dilewatkan meski hanya sekedar mencicipi sample coklatnya yang gurih manis dan lezat.

Gorge Wildlife Park adalah sebuah pusat pemeliharaan hewan endemic Australia dan beberapa jenis hewan lainnya. Disini bisa ditemukan koala, kangguru, wallaby, wombat, emu, burung, reptile, dan binatang mamalia lainnya. Yang unik adalah pengunjung bisa bercengkrama dengan binatang yang ada karena mereka hidup bebas dan jinak. Berfoto dengan menggendong koala adalah salah satu kegiatan favorit yang diburu oleh para pengunjung wildlife park ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: