Perjalanan Adelaide, South Australia

Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah. Itulah kalimat pertama yang hendaknya terlontar dari lubuk hati terdalam ketika nama saya tercantum dalam daftar peserta pelatihan guru di Adelaide Australia. Betapa tidak dari sekian ribu orang guru yang ada di Jawa Barat hanya 400 orang yang masuk daftar seleksi dari jumlah itu pula, hanya 270 orang saja yang berhak berangkat. Sungguh Allah telah menggariskan dan merencanakan semua yang kita alami dengan indah dan tepat.

 Image

Berawal dari pelatihan Penguatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat di Hotel Takashimaya pada bulan Maret 2013, kami mendapat informasi melalui Bu Endang (Kasie SSN dan SBI Disdik Jabar) bahwa akan ada program pelatihan guru di Australia. Kami, para pengurus MGMP Bahasa Inggris se- jawa barat saat itu menyambut dengan antusias. Namun program ini hanya diperuntukkan bagi guru yang menjadi pengurus MGMP/KKG dan guru yang memiliki sertifikat Guru Berprestasi. Alhamdulillah saya saat ini dipercaya memegang amanah sebagai Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kota Sukabumi untuk periode 2010-2013 dan juga pernah menjadi peserta seleksi Guru Berprestasi dua kali yakni tahun 2009 sebagai Juara II tingkat Kota Sukabumi dan tahun 2010 juara III tingkat Kota Sukabumi. Berbekal dua hal itulah saya memberanikan diri mengikuti seleksi peserta pelatihan guru di Australia ini. alhmadulillah setelah mengikuti seleksi administrasi dan ujian tulis serta wawancara, saya termasuk ke dalam 270  orang guru yang dinyatakan lulus mengikuti pelatihan. Dengan jumlah yang sedemikian, kami dibagi ke dalam 6 kelompok dan saya termasuk ke dalam kelompok ke-4 dengan waktu pemberangkatan tanggal 18 Oktober sampai dengan 16 Nopember 2013. Kami juga mendapatkan pelatihan Pre-departure di Hotel Pesona Bamboe pada bulan Juni 2013 untuk mendapatkan informasi teknis dan sharing pengalaman dari guru-guru yang pernah mengikuti pelatihan serupa sebelumnya. Diharapkan dari pelatihan ini kami lebih siap dan tidak merasa kebingungan dengan segala sesuatunya nanti di Australia.

 

Menjelang Hari pemberangkatan

   

Menjelang hari pemberangkatan, kami grup 4, guru-guru SD dan SMP yang ada di wilayah Jawa Barat mencoba mempersiapkan diri dengan mengadakan rapat konsolidasi dan juga komunikasi dengan sesama peserta agar lebih siap dan matang dalam perencanaan. Bulan September 2013 kami berkumpul di Rumah Makan Ampera Soekarno-Hatta Bandung untuk membicarakan persiapan teknis pemberangkatan kelompok mulai dari pembentukan pengurus kelompok sampai dengan hal-hal teknis lainnya seperti penyiapan souvenir untuk di Australia. Alhamdulillah pak Tantan sebagai Ketua kelompok 4 dapat menjembatani dinamika kelompok dan meskipun jarak yang membentang diantara kami, namun berkat kecanggihan teknologi komunikasi saat ini semuanya dapat teratasi.

 

Saya pun mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk perjalanan ini. dimulai dari mempersiapkan pakaian yang akan dipakai di Australia yang katanya selalu dingin dan hujan sewaktu-waktu juga menyiapkan peralatan komunikasi dan dokumentasi untuk mengabadikan pengalaman di sana. Saya memutuskan hanya membawa pakaian secukupnya saja mengingat di Australia kita tidak terlalu banyak mengeluarkan keringat, jadi pakaian juga tidak cepat kotor dan bau. Hanya pakaian dalam lebih diutamakan demi kesehatan sebaiknya diganti setiap hari. Untuk alat komunikasi saya hanya membawa smartphone dengan pertimbangan praktis bisa dipakai untuk komunikasi, juga bisa untuk dokumentasi. Ternyata sangat bermanfaat terutama dalam mencari informasi peta wilayah dan komunikasi dengan sesama rekan di sana maupun komunikasi dengan keluarga di Indonesia. Untuk keperluan lainnya saya juga membekali diri dengan sebuah laptop kecil agar saya masih bisa menyicil tesis maupun pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan data digital. Yang harus diingat adalah pakaian yang dibawa harus yang berbahan tebal dan hangat tapi juga nyaman dipakai. Celana katun yang tipis dapat membuat anda menderita di perjalanan, bahkan di dalam rumah pun masih terasa dingin.

 

Hari pemberangkatan, Kamis, 18 Oktober 2013

 

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tanggal 12 Oktober 2013 saya dan keluarga berangkat ke Bandung dari Sukabumi dengan kendaraan kecil untuk persiapan perayaan Idul Adha sekaligus mengantar pemberangkatan pelatihan. Hari Kamis, 18 Oktober 2013 kami berkumpul di Dinas Pendidikan provinsi Jawa Barat,  Jalan DR. Radjiman Bandung pukul 11 siang. Dengan ditemani istri dan dua anak saya serta paman sekaligus supir, mereka mengantar keberangkatan saya sampai halaman parkir Dinas Pendidikan. Ada rasa haru dan sedih bercampur melihat orang-orang yang dicinta meninggalkan kita. Namun segera rasa itu beralih dengan semangat dan euphoria akan tantangan dan pengalaman baru yang akan dirasakan nanti. Pukul 13.00 rombongan kami yang semuanya ada 45 orang hanya ada 21 orang saja yang berangkat dari Bandung selebihnya langsung menuju Hotel di Bandara dilepas oleh Bu Endang di dalam bis yang akan mengantar kami ke Hotel dan ke bandara. Cuaca yang cerah turut menambah kesan pemberangkatan kami ke hotel di daerah Banten ini.           

 

Tiba di Hotel Permata Bandara pada hari Kamis 18 oktober ini pukul 5 sore disambut oleh rekan kami yang telah lebih dulu tiba di hotel. Setelah check in dan istirahat sejenak kami mendapatkan makan malam di hotel di daerah Banten ini dengan cuacanya yang panas dan membuat keringat mengucur deras. Pukul 8 malam kami berkumpul di ruang pertemuan hotel untuk mendapatkan penjelasan teknis pemberangkatan dan teknis di bandara. Dari pihak travel (pak Agus) memberikan beberapa tips dan petunjuk bagi kami agar lancar terutama di pemeriksaan barang bagasi dan bawaan. Setelah itu kami mengatur pembagian souvenir untuk dibawa ke Australia melalui ketua kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Esok harinya Jumat, 19 Oktober 2013, Pak Riza datang bersama rombongan dan kembali menjelaskan teknis pemberangkatan dan membagikan fasilitas yang belum kami terima antara lain jaket, uang saku, tanda peserta dan konsumsi selama menunggu di bandara.

 Image

Pukul 14 siang setelah melaksanakan sholat Jumat kami check out dari hotel dengan terlebih dahulu dilakukan penimbangan terhadap bawaan bagasi masing-masing. Berat bagasi yang diperbolehkan adalah maksimal 30 kg untuk tiap orang, sementara barang yang dibawa ke kabin maksimal 7 kg. Tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 15.00 kami dibimbing oleh Ibu Mia melakukan check in dan melalui pemeriksaan beberapa kali. Sementara penerbangan terjadwal pukul 20.20 wib dengan menggunakan maskapai penerbangan Qantas, milik Australia. Kami antri berjajar untuk masuk dan melalui jalur pemeriksaan yang lumayan ketat. Pemeriksaan pertama adalah pintu masuk ke ruang tunggu, yang kedua adalah pemeriksaan Boarding pass dan penyerahan koper bagasi kepada petugas. Selanjutnya kami diperiksa kembali sebelum memasuki gate 12 dimana pesawat terparkir. Alhamdulillah tas saya terkena gerayangan petugas karena kedapatan membawa dua botol Aqua 600ml yang belum sempat dibuka sama sekali. Petugas meminta botol air dikeluarkan dan memberi kesempatan kepada saya untuk meminum air itu sebelum diserahkan dan dikumpulkan kepada petugas.          

 

Selanjutnya kami berkumpul di waiting room gate 12 dan pukul 8 malam lebih kami dipersilahkan masuk ke pesawat. Akhirnya kami pun duduk di kursi pesawat dan ini adalah kali kedua saya naik pesawat setelah sebelumnya pernah naik pesawat ketika pulang dari liburan Bali tahun 2010 kemarin.

Dengan hati berdebar menyebut nama Allah akhirnya pesawat take off dengan suaranya yang lumayan memekakkan telinga. Dimulailah journey to the new world of Australia.   

 Image

Sabtu, 19 Oktober 2013

 

Kami melayang di udara dengan ketinggian sekitar 3000 an dan kecepatan pesawat 900 km/jam wow… amazing. Selama di pesawat kami bisa menikmati fasilitas yang ada antara lain nonton tv, film, mendengarkan musik, ataupun program tv lainnya. Para awak pesawat dengan telaten dan ramah menawarkan makanan dan minuman yang menurut saya rada aneh karena tidak biasa. Untuk makan malam kami diberikan dua pilihan menu antara Spicy Chicken Currie atau Beef. Saya memilih beef karena tidak suka yang pedas dan ternyata daging itu pun terasa pedas… weleh podo bae. Menu lainnya diberikan roti dengan pilihan mentega, susu dan minuman. Untuk minuman ini kami boleh memilih apakah mau jus, susu atau soft drink. Selang beberapa puluh menit kembali kami ditawari minuman dengan pilihan teh atau kopi. Saya memilih teh karena punya masalah dengan lambung yang tidak kuat menerima kopi, suka terasa perih dan mencret. Setelah lima jam mengudara kami hanya melihat langit gelap di jendela pesawat dan waktu subuhpun sudah masuk, saya tayamum dan sholat dengan posisi duduk. Kembali para awak pesawat yang rata-rata sudah senior menawarkan menu sarapan dengan pilihan terbatas. Kami diberikan kue snack 3 buah dengan cocolan bumbu, yoghurt, susu dan buah. Beuh… maklum perut belum terbiasa dengan suasana ekstrim sperti itu kontan membuatnya bergejolak. Wah… perlu ke toilet nih. Pukul 7 pagi lebih beberapa menit pilot memberitahu kami bahwa pesawat akan mendarat dan memang di luar jendela sudah terlihat hamparan kota Sydney yang akan kami jelajahi nanti. Dengan suara gemuruh pesawatpun mendarat dengan mulus. Finally… Australia here we come..!

 Image

Hari pertama di Australia

 

Setelah keluar dari pesawat di Sydney Airport kami mengantri di pintu keluar dan mulailah ketegangan menjalari pembuluh nadi karena pemeriksaan disini lebih ketat dari Jakarta. Kami diharuskan mengisi yellow card untuk mendeclare barang apa saja yang kami bawa ke Australia. Dan tentu saja ada beberapa barang dan komoditas yang sama sekali tidak boleh masuk seperti senjata tajam, produk daging, produk susu, barang yang terbuat dari kayu bahkan tanah yang menempel di sepatu pun harus dideclare… waduh.

Akhirnya setelah antrian panjang dan pemeriksaan paspor dan scanner kami mengantri lagi untuk mengambil bagasi. Dari situ kami berjalan menuju domestic destination untuk check in tiket dan bagasi di penerbangan selanjutnya ke Adelaide, masih menggunakan pesawat Qantas.

Selanjutnya kami menunggu kedatangan bis yang akan mengantar kami berkeliling kota Sydney selama setengah hari. Tujuan utama kami adalah Opera House dan Sydney harbour bridge yang sudah menjadi landmarknya Australia. Belum ke Australia jika belum berfoto dengan background opera house… hahaha. 

Setelah mengelilingi kota dengan berbagai keunikannya kami berhenti sejenak di sebuah taman untuk menikmati keindahan scenic view Sydney opera house dengan Harbour bridge yang menjulang melintasi teluk dengan riak air laut yang berwarna keperakan terkena sinar matahari. Subhanallah, maha suci Allah yang telah memberikan kami kesempatan untuk melihat salah satu tempat yang begitu indah. Sungguh keindahan ini tidak ada taranya jika dibandingkan dengan keindahan-Mu ya Robb. Berfoto adalah kegiatan kami yang paling intens dan heboh. Berbagai pose dan gaya dilakukan untuk mengabadikan perjalanan ini. 15 menit kami disana, bus kembali mengantar kami untuk melihat lebih dekat ke lokasi Sydney Opera House.

Sungguh luar biasa dan kagum itulah kesan pertama yang muncul. Betapa tidak, situasi yang ramai tapi tetap tertib dan bersih. Terlihat banyak orang bersantai dan bercengkrama karena memang di hari weekend seperti ini banyak yang menghabiskan waktu di sini. Meskipun begitu kami masih menemukan beberapa sampah yang tercecer di jalanan entah apakh disengaja atau tidak, namun jika dibandingkan dengan kesadaran kita di negeri sendiri akan kebersihan masih jauh tertinggal.

 

Dari sini kami diajak Paddy’s Market, pasar souvenir dan barang kebutuhan lainnya yang katanya paling murah di Sydney. Masuk ke area pasar banyak sekali toko memajang souvenir mulai dari yang ukurannya kecil sampai yang berukuran besar, dari pin dan gantungan kunci sampai dengan alat-alat elektronik ada disini. Beberapa orang rekan langsung memborong barang dan memburu daftar oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke Indonesia nanti. Saya sempat berfikir baru saja sampai di Australia belum juga mulai pelatihannya sudah harus sibuk dengan oleh-oleh haduh…

 

Selanjutnya kami kembali naik ke dalam bus dan diantar ke sebuah Kafe milik orang Indonesia dari banjarmasin untuk makan siang dan menunya adalah ayam goreng, daging rendang serta kuah sayur yang begitu terasa lezat.  Terasa seperti masih di Indonesia saja karena yang melayaninya juga berbahasa Indonesia. Lepas dari situ kami menuju sebuah Mesjid di kota Sydney. Subhanallah, hanya saya tidak turun dari bis karena sudah melaksanakan sholat di bis dengan jama’ qoshar. Akhirnya kembali kami diantar ke Sydney Airport untuk melanjutkan perjalanan menuju Adelaide.

 

Waktu menunjukkan pukul 3 sore waktu Sydney kami sampai di Airport dan masuk melalui pintu domestic destination setelah terlebih dahulu melewati pintu pemeriksaan. Pesawat kami adalah Qantas dengan nomor penerbangan QF 765 dan lepas landas pada pukul 3.40 waktu Sydney.

Di dalam pesawat kami disuguhi makanan ringan dan minuman oleh pramugari dan pramugara yang nampaknya masih lebih muda dibandingkan awak Qantas dari Jakarta ke Sydney. Masih segar-segar hehehe..

 

Mendekati Kota Adelaide kami bisa melihat dengan jelas kondisi geografis Adelaide dari atas dimana sebagian wilayahnya berupa padang rumput dan berbukit-bukit sementara bagian lainnya banyak lahan kosong tandus  tanpa ada tanaman. Kapten pilot memberitahu kami bahwa pesawat akan segera mendarat dan meminta penumpang merapihkan tempat duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Alhamdulillah pesawat dapat mendarat dengan sempurna dan tibalah kami di Adelaide, australia pukul 5 sore.

Keluar dari pesawat kami sudah disambut oleh para Host Family (HF) masing-masing. Syukurlah HF kami, dengan pa Juanda, adalah Elaine Barnes dan Geoff Henley  orang-orang yang baik dan pengertian. Kami saling bertegursapa dan berkenalan kemudian mengantri di tempat pengambilan bagasi. Elaine membawa trolley untuk menyimpan koper dan tas kami sementara kami kembali mengantri untuk menerima fasilitas yang belum diterima yakni kartu Lycamobile, Metrocard untuk tiket transportasi, dan amplop berisi uang saku.

 Image

HF kami mengantar dari Adelaide airport menggunakan kendaraan sedan berwarna merah dan kami diajak berkeliling terlebih dahulu di sekitar kota Adelaide dan juga tempat-tempat yang akan menjadi lokasi kegiatan pelatihan di Adelaide ini. Akhirnya kami sampai di rumah HF yang beralamat di Albert street 71, Clarence Garden, tidak terlalu jauh dari pusat kota Adelaide, hanya sekitar 7 km saja. Kedatangan kami disambut oleh dua ekor anjing peliharaan Elaine, Kathie dan Jacky. Sempat kaget juga dan takut namun HF kami segera menyuruh anjing-anjing itu untuk tenang dan duduk.

Kathie adalah sejenis anjing terrier berukuran sedang, sedangkan Jacky termasuk jenis cavalier king or charles spaniel. Mencoba untuk beradaptasi dengan mereka adalah tantangan kami berikutnya terutama dengan pola hidup dan penghuni rumah termasuk binatang peliharaan mereka. Bahkan Elaine menjelaskan bahwa anjing bagi mereka adalah “furr kids” diibaratkan anak oleh mereka.

 

Kami dipersilakan menempati sebuah kamar berukuran sedang dengan furnitur lengkap. Ada empat buah lemari pakaian, satu meja belajar, satu meja rias, dua nakas lengkap dengan lampu tidur, satu kursi putar dan satu kursi sofa. Wah padat sekali isi kamar ini sehingga untuk sholat hanya bisa untuk satu orang saja. Setelah istirahat sebentar kami diajak makan malam bersama di ruang makan dengan menu yang lumayan mengagetkan lagi, nasi kari campur saus tomat didalam sebuah paprika besar. Waduh rasanya lumayan aneh tapi karena lapar kami sikat sampai habis. Minuman yang disediakan cukup bervariasi, kita boleh memilih minum teh, kopi, susu, jus maupun softdrink bahkan bandrek dan bajigur pun ada. Beuh…lengkap. Sambil makan kami mengobrol dalam bahasa inggris tentunya, mengenai hal-hal yang menarik juga mengenai jadwal kegiatan dan hal lainnya. Setelah itu kami pamitan untuk mandi dan istirahat.

 

Hari Minggu, 20 Oktober 2013.

 

Kami terbangun karena cuaca yang dingin sekali dan ternyata sudah subuh. Cara mengambil wudhu merupakan tantangan lain karena Ozzy sangat anti kamar mandi yang basah, mereka suka yang kering. Lain dengan orang Jawa Barat yang biasa berbasah-basahan di kamar mandinya. Untuk wudhu saya menggunakan air dari wastafel dan mengusahakan sebisa mungkin agar tidak ada air yang muncrat ke lantai. Setelah melaksanakan sholat subuh saya mencoba baca-baca buku yang ada di kamar dan juga buku petunjuk kegiatan dari panitia. Pukul 8 kami dipanggil untuk sarapan dan ternyata menunya sederhana saja, ada cornflake disiram susu, roasted bread, selai strawberry dan jus buah apel. Hmm… perlu penyesuaian lagi terutama dengan susu dan rasa asam dari jus apalagi di pagi hari. Sambil sarapan kami diberitahu bahwa mereka akan keluar rumah pergi ke gereja sampai jam 10.30 dan kami ditinggal di rumah.

Untuk permulaan, kami putuskan untuk sedikit menjelajah suasana kompleks rumah. Kami berjalan ke arah timur dan tampak suasana jalanan yang lengang dan sepi. Ada banyak mobil terparkir di pinggir jalan namun jarang kami lihat orang berlalu-lalang di jalanan. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang bule yang berolahraga sambil menuntun anjing mereka. Kami mengucapkan sapaan hello pada mereka sebagai tanda persahabatan. Ada yang membalas dengan ramah ada juga yang cuek terus berjalan. Sama lah seperti di kita, ada yang baik ada juga yang kurang baikya. Kami mensurvey bus stop 15 dimana kami akan naik jika harus berangkat ke kota. Juga kami lihat ada seseorang yang memasang pengumumam “garage sale” di Kyeema Avenue 24, kami tertarik untuk melihat barang apa saja yang mereka jual. Ternyata banyak barang yang mereka keluarkan, mulai dari piring gelas, alat listrik, buku-buku, bahkan beberapa furnitur. Hmm… saya menemukan beberapa buku menarik dengan harga pukul rata yakni $1 untuk tiap buku. Diambillah 4 buah buku dan kami segera kembali ke rumah HF. 

 

Geoff pulang dari gereja dan mengajak kami dengan mobilnya untuk mengelilingi kota dan juga pantai Glenelg. Dia juga menunjukkan lokasi sekolah yang akan kami kunjungi yakni Hamilton Secondary College di Marion Road. Terlihat suasana kota Adelaide yang rapih dan bersih serta kebanyakan kendaraan yang terlihat berupa sedan, motor hanya sesekali terlihat itupun motor besar, tidak ada jenis bebek seperti di kita. Paling banter adalah skooter sehingga nampak lucu orangnya tinggi besar sementara motornya mungil.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: